Sainte-Marie among the Hurons: Desa Bersejarah yang Mengungkap Masa Lalu Ontario
Jauh sebelum kawasan Ontario berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan modern Kanada, wilayah di sekitar Georgian Bay telah menjadi rumah bagi masyarakat Indigenous yang memiliki kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan tradisi yang kuat.
Di kawasan inilah sebuah komunitas bernama Sainte-Marie among the Hurons berdiri pada abad ke-17. Lokasinya berada di dekat Midland, Ontario, di tepi Sungai Wye yang mengalir menuju Georgian Bay. Tempat ini kemudian menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah awal hubungan antara masyarakat Eropa dan Wendat di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Ontario.
Sainte-Marie among the Hurons bukan sekadar peninggalan sebuah misi keagamaan. Sejarahnya memperlihatkan pertemuan dua dunia yang memiliki bahasa, kepercayaan, sistem sosial, serta cara hidup berbeda. Di satu sisi terdapat para misionaris Jesuit dan pekerja Prancis yang datang dari New France. Di sisi lain terdapat masyarakat Wendat yang telah lama menempati wilayah tersebut dan memiliki jaringan perdagangan serta komunitas yang berkembang.
Misi tersebut hanya bertahan sekitar satu dekade, dari 1639 hingga 1649. Namun, meskipun masa keberadaannya relatif singkat, Sainte-Marie memiliki pengaruh besar terhadap sejarah Ontario dan hubungan awal antara masyarakat Prancis dengan Wendat.
Sebelum Sainte-Marie Berdiri, Wilayah Ini Adalah Tanah Wendat
Untuk memahami sejarah Sainte-Marie, kisahnya tidak dapat dimulai hanya dari kedatangan orang Prancis.
Jauh sebelum pembangunan misi Jesuit, kawasan yang kemudian dikenal sebagai Huronia merupakan wilayah masyarakat Wendat. Mereka memiliki kehidupan menetap, mengembangkan pertanian, membangun desa, serta menjalankan aktivitas perdagangan dengan kelompok masyarakat lain.
Wendat juga memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan di sekitar Danau Simcoe dan Georgian Bay. Lahan pertanian, hutan, sungai, dan jalur air menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Dalam sumber-sumber Prancis pada masa tersebut, masyarakat Wendat sering disebut dengan istilah Huron. Istilah itulah yang kemudian digunakan dalam nama Sainte-Marie among the Hurons.
Namun dalam konteks sejarah modern, istilah Wendat semakin penting digunakan karena merupakan nama yang berkaitan langsung dengan identitas masyarakat tersebut.
Kawasan Wendake pada abad ke-17 bukanlah wilayah kosong yang menunggu kedatangan orang Eropa. Sebaliknya, kawasan tersebut sudah memiliki masyarakat dengan struktur sosial, budaya, ekonomi, dan jaringan hubungan yang kompleks.
Kedatangan Para Jesuit ke Wendake
Hubungan antara Prancis dan masyarakat Wendat berkembang pada awal abad ke-17.
Para Jesuit datang sebagai bagian dari kegiatan misi keagamaan Prancis di Amerika Utara. Mereka memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik sekaligus membangun hubungan dengan masyarakat Indigenous.
Perjalanan menuju wilayah Wendake tidak mudah.
Pada masa itu, New France masih merupakan koloni dengan jumlah penduduk Eropa yang sangat kecil jika dibandingkan dengan wilayah Prancis di Eropa. Perjalanan dari kawasan Québec menuju wilayah Huronia membutuhkan waktu panjang dan sangat bergantung pada jalur sungai serta danau.
Para misionaris juga harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan kehidupan masyarakat setempat.
Mereka mempelajari bahasa Wendat, mengamati adat istiadat, dan berusaha membangun komunikasi dengan masyarakat yang mereka temui.
Hubungan tersebut tidak selalu sederhana. Perbedaan kepercayaan dan tujuan antara misionaris dengan masyarakat Indigenous menjadi bagian penting dari sejarah Sainte-Marie.
Pembangunan Sainte-Marie pada 1639
Pada 1639, para Jesuit bersama pekerja awam Prancis mulai membangun sebuah kompleks misi di tepi Sungai Wye.
Tempat itu kemudian dikenal sebagai Sainte-Marie among the Hurons.
Kompleks tersebut dirancang bukan sebagai desa biasa, melainkan sebagai pusat kegiatan misi Jesuit. Di dalamnya terdapat barak, gereja, rumah tinggal, bengkel, fasilitas penyimpanan, serta berbagai bangunan yang diperlukan untuk menunjang kehidupan komunitas.
Ada pula area yang digunakan untuk menerima masyarakat Indigenous yang datang ke kompleks tersebut.
Pembangunan dilakukan dengan kondisi yang jauh berbeda dari pembangunan kota modern. Material harus diperoleh dari lingkungan sekitar atau dibawa melalui perjalanan panjang.
Kayu menjadi bahan utama.
Para pekerja harus membangun pagar, rumah, gudang, bengkel, dan fasilitas lainnya dengan tenaga manusia serta peralatan yang tersedia pada masa itu.
Dalam waktu relatif singkat, Sainte-Marie berkembang menjadi sebuah komunitas Eropa yang cukup besar untuk ukuran wilayah terpencil di New France.
Sainte-Marie Menjadi Pusat Misi Jesuit
Peran Sainte-Marie kemudian berkembang jauh melampaui sebuah tempat tinggal para imam.
Kompleks tersebut menjadi markas utama kegiatan misi Jesuit kepada masyarakat Wendat.
Dari Sainte-Marie, para misionaris melakukan perjalanan ke berbagai desa Wendat. Mereka menyampaikan ajaran agama, membangun hubungan, mempelajari bahasa, serta berusaha memperkenalkan kehidupan keagamaan Katolik.
Para Jesuit juga menggunakan Sainte-Marie sebagai tempat untuk melatih dan mempersiapkan misionaris yang baru tiba.
Pada 1648, sekitar 66 laki-laki Prancis tinggal di Sainte-Marie. Jumlah tersebut menjadi sangat besar jika dibandingkan dengan keseluruhan populasi Eropa di New France pada masa itu.
Komunitas tersebut terdiri dari imam Jesuit, pekerja awam, pengrajin, serta orang-orang yang menjalankan berbagai pekerjaan untuk mempertahankan keberlangsungan misi.
Kehidupan Sehari-hari di Sainte-Marie
Bayangan tentang misi abad ke-17 sering kali hanya dikaitkan dengan kegiatan keagamaan.
Padahal, kehidupan sehari-hari di Sainte-Marie jauh lebih kompleks.
Sebuah komunitas yang berada ratusan kilometer dari pusat koloni Prancis harus mampu memenuhi banyak kebutuhan sendiri.
Ada kegiatan memasak, pertukangan, perbaikan bangunan, pembuatan peralatan, pengolahan makanan, pengelolaan persediaan, serta pekerjaan lain yang diperlukan untuk bertahan hidup.
Para pekerja dengan keahlian tertentu memainkan peran penting.
Pandai besi dibutuhkan untuk mengolah dan memperbaiki benda-benda dari logam. Tukang kayu mengerjakan bangunan dan berbagai perlengkapan. Pekerja lain mengurus kebutuhan makanan serta fasilitas sehari-hari.
Karena itu, Sainte-Marie berkembang menjadi sebuah komunitas dengan pembagian pekerjaan yang cukup jelas.
Peran Rumah Sakit di Sainte-Marie
Salah satu fasilitas yang menarik perhatian dalam sejarah Sainte-Marie adalah rumah sakit.
Kontak antara masyarakat Eropa dan Indigenous tidak hanya terjadi dalam bidang perdagangan maupun agama. Kesehatan juga menjadi bagian dari hubungan tersebut.
Masyarakat Wendat yang datang ke misi dapat memperoleh perawatan medis setelah fasilitas kesehatan didirikan.
Namun, hubungan kesehatan tersebut memiliki sisi lain yang jauh lebih tragis.
Kedatangan orang Eropa membawa berbagai penyakit menular yang sebelumnya tidak dikenal atau tidak tersebar luas di antara masyarakat Indigenous setempat.
Wabah penyakit kemudian menyebabkan dampak besar terhadap populasi Wendat.
Penyakit seperti cacar dan epidemi lainnya ikut memperlemah masyarakat Wendat pada periode yang sama ketika konflik antarkelompok semakin meningkat.
Dalam sejarah Sainte-Marie, faktor penyakit tidak dapat dipisahkan dari perubahan besar yang terjadi di Huronia.
Hubungan antara Jesuit dan Wendat
Hubungan antara masyarakat Wendat dengan para Jesuit berlangsung dalam situasi yang sangat kompleks.
Ada masyarakat Wendat yang menerima ajaran Kristen dan menjadi pengikut misi. Ada pula yang tidak menerima perubahan tersebut.
Bagi para Jesuit, penyebaran agama merupakan tujuan utama.
Sementara bagi masyarakat Wendat, hubungan dengan orang Prancis dapat berkaitan dengan berbagai kepentingan, mulai dari perdagangan hingga hubungan politik dan sosial.
Tidak semua orang memiliki pandangan yang sama.
Sebagian melihat kehadiran para misionaris sebagai sesuatu yang bermanfaat, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap perubahan yang dibawa oleh agama dan budaya asing.
Karena itu, Sainte-Marie menjadi tempat bertemunya kepentingan dan pandangan yang berbeda.
Kehidupan Wendat Tidak Berpusat di Sainte-Marie
Hal penting lainnya adalah memahami bahwa Sainte-Marie bukanlah pusat kehidupan seluruh masyarakat Wendat.
Sainte-Marie merupakan komunitas Eropa yang berada di wilayah Wendake.
Masyarakat Wendat tetap tinggal di desa-desa mereka sendiri.
Para misionaris sering melakukan perjalanan dari satu desa ke desa lain untuk menjalankan misi. Sainte-Marie lebih berfungsi sebagai pusat atau markas bagi kegiatan tersebut.
Pemisahan ini penting karena membantu memberikan gambaran sejarah yang lebih seimbang.
Sainte-Marie adalah bagian dari sejarah Wendat, tetapi bukan keseluruhan sejarah masyarakat Wendat.
Perdagangan dan Perjalanan Panjang
Sainte-Marie juga berada dalam kawasan yang penting bagi jaringan perdagangan.
Wilayah Great Lakes telah menjadi jalur pergerakan manusia dan barang jauh sebelum kedatangan orang Eropa.
Danau, sungai, serta jalur darat memungkinkan berbagai kelompok masyarakat berhubungan satu sama lain.
Orang Prancis kemudian memasuki jaringan tersebut.
Hubungan perdagangan bulu menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan ekonomi New France.
Namun persaingan atas perdagangan dan jalur ekonomi juga memperbesar ketegangan antarkelompok.
Situasi geopolitik di sekitar Great Lakes semakin rumit pada pertengahan abad ke-17.
Konflik yang Mengubah Masa Depan Huronia
Memasuki akhir 1640-an, kondisi di Huronia semakin memburuk.
Masyarakat Wendat telah mengalami dampak berat akibat wabah penyakit. Pada saat yang sama, serangan dari kelompok Haudenosaunee yang dalam sumber-sumber Prancis masa itu sering disebut Iroquois semakin meningkat.
Konflik tersebut berkaitan dengan persaingan yang luas di kawasan Great Lakes, termasuk jaringan perdagangan dan pengaruh politik.
Serangan terhadap komunitas Wendat membuat situasi semakin tidak aman.
Desa-desa mengalami kehancuran.
Penduduk berpindah.
Persediaan makanan menjadi semakin sulit diperoleh.
Dalam kondisi tersebut, Sainte-Marie juga tidak lagi menjadi tempat yang aman.
Tahun 1649: Akhir Sainte-Marie
Tahun 1649 menjadi titik balik paling dramatis dalam sejarah Sainte-Marie among the Hurons.
Tekanan terhadap masyarakat Wendat semakin besar. Penyakit, perang, kekurangan makanan, dan perpindahan penduduk menciptakan kondisi yang sangat sulit.
Para Jesuit akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan misi.
Namun sebelum pergi, mereka membakar Sainte-Marie.
Keputusan tersebut dilakukan agar kompleks tersebut tidak dapat digunakan oleh pihak lain dan agar misi tidak jatuh ke tangan musuh.
Dengan demikian, komunitas yang dibangun selama sekitar sepuluh tahun tersebut berakhir.
Sainte-Marie yang pernah menjadi pusat kegiatan Jesuit di Huronia berubah menjadi reruntuhan.
Perpindahan ke Christian Island
Setelah meninggalkan Sainte-Marie, para Jesuit bersama sejumlah pengikut Wendat bergerak menuju sebuah pulau yang sekarang dikenal sebagai Christian Island.
Di sana mereka berusaha membangun kembali sebuah komunitas misi yang kemudian dikenal sebagai Sainte-Marie II.
Namun keadaan di tempat baru tersebut juga tidak mudah.
Persediaan makanan terbatas.
Ancaman serangan masih ada.
Musim dingin memperburuk kondisi.
Pada akhirnya, para Jesuit dan sebagian masyarakat Wendat meninggalkan kawasan tersebut dan bergerak menuju Québec pada 1650.
Perjalanan tersebut menjadi penutup dari salah satu episode paling dramatis dalam sejarah awal hubungan Prancis dan Wendat.
Kisah Jean de Brébeuf dan Gabriel Lalemant
Nama Sainte-Marie juga berkaitan erat dengan dua misionaris Jesuit, yaitu Jean de Brébeuf dan Gabriel Lalemant.
Keduanya menjadi tokoh penting dalam sejarah misi Jesuit di Huronia.
Brébeuf telah lama menjalankan misi di antara masyarakat Wendat dan mempelajari bahasa serta budaya mereka.
Pada masa konflik 1649, Brébeuf dan Lalemant ditangkap dalam situasi perang dan kemudian meninggal.
Kisah keduanya kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Katolik di Kanada.
Di kawasan Sainte-Marie, makam yang dikaitkan dengan para martir tersebut menjadi tempat yang memiliki arti religius bagi banyak peziarah Kristen.
Namun sejarah Sainte-Marie tidak hanya mengenai kisah para misionaris.
Kehidupan dan penderitaan masyarakat Wendat juga merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari cerita tersebut.
Sainte-Marie Menghilang Selama Berabad-abad
Setelah ditinggalkan dan dibakar pada 1649, kawasan Sainte-Marie perlahan kembali menjadi bagian dari lingkungan alam.
Bangunan kayu tidak bertahan seperti bangunan batu.
Vegetasi tumbuh.
Jejak komunitas yang pernah berdiri di lokasi tersebut perlahan menghilang dari permukaan.
Namun sejarahnya tidak sepenuhnya hilang.
Catatan para Jesuit, tradisi lisan, dokumen sejarah, serta penelitian arkeologi kemudian membantu mengungkap kembali cerita Sainte-Marie.
Penelitian Arkeologi Mengungkap Masa Lalu
Pada abad ke-19, perhatian terhadap lokasi bersejarah tersebut mulai meningkat.
Penelitian arkeologi dilakukan secara bertahap dan kemudian berkembang lebih serius pada abad ke-20.
Penggalian dan penelitian membantu mengidentifikasi lokasi berbagai bangunan dan memberikan gambaran mengenai tata ruang komunitas Sainte-Marie.
Temuan arkeologis tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam proses rekonstruksi.
Menurut Parks Canada, penelitian arkeologi awal telah dilakukan pada abad ke-19, kemudian dilanjutkan kembali pada 1940-an dan 1950-an. Hasil penelitian tersebut menjadi salah satu dasar bagi pembangunan kembali kompleks pada 1960-an.
Rekonstruksi Sainte-Marie
Sainte-Marie yang dapat dikunjungi wisatawan sekarang bukanlah bangunan asli yang berdiri pada 1639.
Bangunan-bangunan tersebut merupakan hasil rekonstruksi berdasarkan penelitian sejarah dan arkeologi.
Kompleks tersebut kemudian dibuka kepada masyarakat sebagai atraksi sejarah pada 1967.
Rekonstruksi dibuat untuk memberikan gambaran tentang seperti apa komunitas tersebut pada abad ke-17.
Pengunjung dapat melihat bangunan bergaya Eropa, pagar kayu, bengkel, barak, gereja, fasilitas rumah tangga, serta longhouse yang menggambarkan kehidupan masyarakat Indigenous.
Dengan cara tersebut, sejarah tidak hanya dibaca dari panel informasi.
Pengunjung dapat berjalan di antara bangunan dan membayangkan bagaimana kehidupan di kawasan tersebut berlangsung hampir empat abad lalu.
Mengapa Sainte-Marie Penting bagi Sejarah Ontario?
Sainte-Marie sering disebut sebagai salah satu komunitas Eropa paling awal dan penting di wilayah yang sekarang menjadi Ontario.
Keberadaannya menunjukkan bahwa sejarah Ontario sudah terkait dengan hubungan internasional sejak abad ke-17.
Prancis, masyarakat Wendat, para pedagang, misionaris, serta berbagai kelompok Indigenous lainnya berinteraksi dalam jaringan yang membentang luas di kawasan Great Lakes.
Parks Canada menetapkan Sainte-Marie among the Hurons sebagai National Historic Site of Canada pada 1920 karena perannya sebagai pusat misi Jesuit kepada masyarakat Huron-Wendat selama 1639–1649.
Status tersebut memperlihatkan bahwa nilai sejarah Sainte-Marie bukan hanya penting bagi Ontario, tetapi juga bagi sejarah Kanada secara keseluruhan.
Sainte-Marie dan Cara Baru Melihat Sejarah
Saat ini, pemahaman tentang Sainte-Marie juga semakin berkembang.
Sejarah tidak lagi hanya dilihat dari sudut pandang para misionaris atau orang Eropa.
Masyarakat Indigenous yang hidup di wilayah tersebut sebelum kedatangan Prancis juga mendapatkan perhatian lebih besar.
Pendekatan seperti ini penting karena sejarah kolonial sering kali memiliki banyak sudut pandang.
Apa yang dianggap sebagai misi oleh para Jesuit dapat dipandang berbeda oleh masyarakat yang wilayah dan kehidupannya mengalami perubahan akibat kedatangan orang Eropa.
Dengan melihat berbagai perspektif, pengunjung dapat memahami Sainte-Marie bukan hanya sebagai tempat penyebaran agama, tetapi sebagai lokasi pertemuan budaya yang menghasilkan dampak panjang dan kompleks.
Museum Sejarah yang Menghidupkan Kembali Masa Lalu
Saat ini Sainte-Marie among the Hurons dikembangkan sebagai destinasi sejarah hidup.
Para pengunjung dapat melihat bangunan yang direkonstruksi, mengikuti kegiatan edukasi, menyaksikan demonstrasi, dan berinteraksi dengan penerjemah sejarah yang mengenakan pakaian sesuai periode tertentu.
Konsep tersebut membuat sejarah terasa lebih dekat.
Seorang pengunjung tidak hanya membaca bahwa masyarakat abad ke-17 menggunakan peralatan sederhana. Mereka dapat melihat bentuk peralatan tersebut dan memahami bagaimana pekerjaan dilakukan.
Anak-anak juga dapat memperoleh pengalaman berbeda karena sejarah hadir dalam bentuk lingkungan nyata.
Konsep museum seperti ini menjadi salah satu cara untuk membuat sejarah lebih mudah dipahami oleh generasi baru.
Bangunan yang Menjadi Bagian dari Rekonstruksi
Kompleks Sainte-Marie yang sekarang dapat dikunjungi memiliki berbagai fasilitas yang menggambarkan kehidupan komunitas pada abad ke-17.
Ada kawasan tempat tinggal.
Ada bengkel.
Ada gereja.
Ada fasilitas kesehatan.
Ada gudang.
Ada area memasak.
Ada kandang dan fasilitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Selain bangunan Eropa, terdapat pula longhouse yang membantu pengunjung memahami perbedaan lingkungan tempat tinggal masyarakat Indigenous dengan komunitas Prancis.
Seluruh unsur tersebut membentuk sebuah gambaran tentang masyarakat yang hidup dalam kondisi jauh sebelum teknologi modern berkembang.
Sungai Wye dan Letak Strategis Sainte-Marie
Pemilihan lokasi Sainte-Marie juga bukan tanpa alasan.
Kompleks tersebut dibangun di tepi Sungai Wye yang terhubung dengan kawasan Georgian Bay.
Air menjadi jalur transportasi penting pada masa lalu.
Perjalanan dengan kano memungkinkan orang dan barang bergerak melewati wilayah yang sulit ditembus melalui daratan.
Lokasi tersebut juga dekat dengan wilayah kehidupan masyarakat Wendat.
Karena itu, Sainte-Marie memiliki posisi yang strategis untuk kegiatan misi sekaligus hubungan dengan komunitas di sekitarnya.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Hampir empat abad setelah Sainte-Marie dibakar, cerita mengenai komunitas tersebut masih terus dipelajari.
Bangunan aslinya memang telah hilang.
Namun lokasi, catatan sejarah, temuan arkeologi, dan rekonstruksi membuat kisahnya dapat dipahami kembali.
Sainte-Marie juga menjadi contoh bagaimana sebuah situs sejarah dapat berubah fungsi.
Dulu tempat tersebut merupakan pusat misi Jesuit.
Kini kawasan itu menjadi ruang pendidikan dan pelestarian sejarah.
Perubahan fungsi tersebut memungkinkan generasi modern mempelajari peristiwa yang terjadi pada masa ketika Kanada masih berada dalam tahap awal pembentukan kolonial Eropa.
Pelajaran dari Sejarah Sainte-Marie
Salah satu pelajaran penting dari Sainte-Marie adalah bahwa sejarah tidak pernah berdiri dalam satu cerita sederhana.
Ada misi keagamaan.
Ada perdagangan.
Ada hubungan antarbudaya.
Ada penyakit.
Ada konflik.
Ada perpindahan penduduk.
Ada penderitaan.
Ada pula usaha manusia untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang sangat sulit.
Semua unsur tersebut saling berhubungan.
Karena itu, Sainte-Marie tidak seharusnya hanya dilihat sebagai peninggalan Jesuit. Tempat tersebut juga merupakan bagian dari sejarah panjang masyarakat Wendat dan sejarah hubungan Indigenous-Eropa di kawasan Great Lakes.
Mengapa Sainte-Marie among the Hurons Layak Dikunjungi?
Bagi wisatawan yang menyukai sejarah, Sainte-Marie menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata modern.
Tempat ini tidak mengandalkan gedung tinggi atau teknologi canggih.
Daya tarik utamanya justru terletak pada suasana masa lalu.
Pengunjung dapat menyusuri kawasan rekonstruksi, melihat bentuk bangunan abad ke-17, mempelajari pekerjaan tradisional, memahami kehidupan misionaris, dan mendapatkan gambaran mengenai masyarakat yang pernah hidup di kawasan tersebut.
Bagi keluarga, tempat ini juga dapat menjadi ruang belajar sejarah yang lebih menarik dibandingkan sekadar membaca buku.
Sementara bagi wisatawan internasional, Sainte-Marie memberikan perspektif tentang fase awal perkembangan wilayah yang kemudian menjadi bagian dari Kanada modern.
Penutup
Sainte-Marie among the Hurons merupakan salah satu situs sejarah paling penting untuk memahami awal hubungan antara Prancis dan masyarakat Wendat di wilayah yang sekarang menjadi Ontario.
Dibangun pada 1639 sebagai pusat misi Jesuit, komunitas tersebut berkembang menjadi sebuah permukiman penting yang memiliki tempat tinggal, bengkel, gereja, fasilitas kesehatan, serta berbagai bangunan pendukung.
Namun kehidupannya berlangsung singkat.
Penyakit, konflik, perubahan sosial, dan meningkatnya serangan terhadap masyarakat Wendat akhirnya membuat misi tersebut ditinggalkan dan dibakar pada 1649.
Setelah berabad-abad berlalu, penelitian arkeologi dan sejarah membuka kembali cerita yang pernah terkubur.
Kini, Sainte-Marie among the Hurons berdiri sebagai situs sejarah yang direkonstruksi dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempelajari kehidupan abad ke-17.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Sainte-Marie adalah pengingat bahwa sejarah Kanada dibentuk oleh banyak kelompok, banyak kepentingan, dan banyak pengalaman.
Di balik pagar kayu dan bangunan yang direkonstruksi, tersimpan kisah tentang pertemuan budaya, keyakinan, perdagangan, penyakit, peperangan, dan perjuangan manusia untuk bertahan hidup.
Itulah yang membuat Sainte-Marie among the Hurons tetap penting hingga hari ini: tempat tersebut bukan hanya menceritakan masa lalu, tetapi membantu generasi sekarang memahami bagaimana sebuah bagian dari sejarah Kanada terbentuk.
Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia