
Sejarah dunia mencatat bahwa kaum muda memainkan peran penting dalam berbagai gerakan sosial dan politik. Lihatlah anak-anak muda yang penuh semangat dari era mana pun, dan Anda akan menemukan katalisator perubahan yang mengesankan.
Kaum muda adalah mata rantai dalam rantai aktivis muda. Selama puluhan tahun, mereka berada di garda terdepan perubahan sosial di seluruh dunia. Berikut adalah lima gerakan lain yang juga digerakkan oleh para pengunjuk rasa muda.
Civil Rights Movement (Gerakan Hak Sipil)
Pemuda berperan penting dalam momen-momen paling berkesan gerakan hak-hak sipil. Dan mereka juga terlibat di balik layar. Bersama-sama, para pemuda menuntut penghapusan pemisahan yang bersifat rasial sekolah-sekolah di Jim Crow South. “Mereka menentang rasisme selama Freedom Rides, dan mendorong hak pilih serta legislasi hak-hak sipil,” tulis Erin Blackmore di laman National Geographic.
Di antara kader yang mengatur mahasiswa, yang paling berpengaruh adalah Student Nonviolent Coordinating Committee (SNCC). SNCC adalah sebuah kelompok yang merangkul protes tanpa kekerasan dan membantu melatih banyak prajurit gerakan tersebut. Dengan semangat independen yang kuat, kelompok ini mempertahankan upaya-upaya terorganisasi di berbagai front perubahan. Mereka juga menghadapi kekerasan fisik dan represi negara di sepanjang perjalanannya.
Didorong oleh penolakan kaum muda terhadap supremasi kulit putih, SNCC pernah menjadi kelompok hak-hak sipil terbesar dan terorganisasi dengan baik.
Pemuda yang berpartisipasi dalam gerakan hak-hak sipil merangkul apa yang disebut sebagai “good trouble”. Good trouble adalah agitasi tanpa rasa takut yang dirancang untuk memprovokasi, menantang, dan memajukan kemajuan.
Protes Perang Vietnam
Lebih dari dua juta pemuda direkrut menjadi militer Amerika Serikat selama Perang Vietnam. Maka, tak heran jika kaum muda berada di garda terdepan protes menentang konflik tersebut. Gerakan mahasiswa yang membantu menggerakkan publik Amerika melawan perang dimulai pada awal 1960-an. Para aktivis muda terinspirasi oleh gerakan hak-hak sipil dan perlawanan sayap kiri terhadap Perang Dingin.
Di seluruh Amerika Serikat, mahasiswa berbaris, melakukan aksi duduk, dan beragitasi menentang perang. Protes tersebut menggemparkan dan memecah belah publik Amerika, yang memperdebatkan apakah mahasiswa harus diizinkan untuk berunjuk rasa atau dihentikan.
Dalam demonstrasi di Kent State University pada 4 Mei 1970, mahasiswa tak bersenjata tewas. Sedangkan yang lainnya terkena gas air mata dan dihalau oleh polisi. Anggota kelompok seperti Students for a Democratic Society, salah satu penggerak utama gerakan anti-perang, menjadi sasaran FBI.
“Kami benar tentang perang,” kata Michael S. Ansara, yang memimpin cabang SDS di Universitas Harvard. “Kami paham bahwa kami akan memancing reaksi dan itu akan memberi kami kesempatan untuk berdiskusi dan berdebat,” ujar Ansara. “Anda tidak akan mendapatkan perdebatan hanya dengan bersikap sopan.”
Tragedi Tiananmen Square
“Saya iri dengan kebebasan yang dinikmati mahasiswa saya di sini,” kata Rowena He, asisten profesor sejarah di St. Michael’s College di Vermont.
Saat remaja di Tiongkok pada tahun 1989, He menjelaskan, “Ketika saya seusia mereka, jutaan dari kami turun ke jalan di berbagai kota di negara asal saya. Kami menuntut hak-hak dasar yang diterima mahasiswa Amerika sebagai hak asasi mereka dan sering kali dianggap remeh.”
Gerakan yang dipopulerkan secara global oleh kekerasan di Tiananmen Square tidak hanya terjadi di alun-alun tersebut. Gerakan ini melanda Tiongkok ketika para pemuda menuntut reformasi demokrasi dan liberalisasi ekonomi dalam menghadapi kronisme dan kemerosotan ekonomi. Ratusan ribu aktivis, banyak di antaranya mahasiswa, turun ke jalan dengan spanduk, pidato, dan lagu.
Pada tanggal 3 dan 4 Juni 1989, protes yang sarat emosi tersebut berubah menjadi tragedi. Ribuan tentara menyerbu Tiananmen Square. Mereka menembaki mahasiswa tak bersenjata. Tentara menghancurkan gerakan tersebut dengan tank dan senapan. Jumlah korban jiwa masih belum diketahui.
Tiongkok tidak pernah secara resmi mengakui pembantaian tersebut dan terus menyensor informasi dan percakapan tentang gerakan tersebut. Tiga dekade setelah penumpasan tersebut, kata He, “kita masih belum mampu memberikan keadilan bagi ratusan nyawa anak muda yang dihancurkan oleh senjata dan tank.”
He dan rekan-rekan peneliti lainnya yang meneliti gerakan Tiananmen masih takut akan pembalasan dari Partai Komunis Tiongkok.
Arab Spring (Kebangkitan Dunia Arab)
Bagi sebagian orang, Twitter dan Facebook mencerminkan stereotip anak muda yang tidak terhubung dengan dunia maya. Kaum muda digambarkan selalu membawa ponsel pintar.
Namun, selama Arab Spring tahun 2010, media sosial membantu kaum muda mengorganisasi revolusi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi itu dimulai di Tunisia dan menyebar ke Mesir, Libya, Yaman, Suriah, Bahrain, dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Apa pemicunya? Semua berawal dari rasa frustrasi akibat korupsi polisi, kesulitan ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, dan rezim yang represif. Kaum muda berpartisipasi dalam gelombang protes pro-demokrasi yang mengubah alun-alun publik. Tahrir Square di Kairo pun menjadi medan perjuangan. Demonstrasi tersebut dipicu oleh kematian seorang pedagang kaki lima muda Tunisia yang membakar diri setelah polisi menyita gerobaknya.
Aktivis muda bukan satu-satunya yang berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut. Demonstrasi tersebu tentu saja mengguncang dunia Arab selama lebih dari setahun. Selain itu, juga memicu konflik yang sedang berlangsung seperti perang saudara Suriah. Akhirnya, Arab Spring mengakibatkan tergulingnya presiden Mesir Hosni Mubarak, di antara peristiwa-peristiwa lainnya.
“Arab Spring tidak mungkin terjadi tanpa dorongan ideologis dan numerik dari massa besar pemuda yang marah,” tutur analis M. Chloe Mulderig dari Boston University
Indigenous Water Rights (Hak Air Masyarakat Adat)
“Pemuda lelah berpikir bahwa mereka tidak punya masa depan,” kata Micaela Iron Shell-Dominguez. “Merampas tanah kami saja sudah cukup. Sekarang kalian akan datang ke tanah kami, membangun pipa, dan menghancurkan air kami.”
Dominguez berbicara tentang serangkaian pipa kontroversial yang dirancang untuk mengalirkan minyak melalui Amerika Serikat. Pipa tersebut sering kali melintasi atau berada di dekat tanah dan jalur air penduduk asli Amerika. Pipa-pipa ini telah ditentang keras oleh para organisator pemuda seperti Shell-Dominguez.
Salah satunya, Dakota Access Pipeline atau Pipa Akses Dakota (DAPL), menggerakkan pemuda adat. Pipa tersebut melewati dekat Standing Rock Indian Reservation. Dan pada tahun 2016, persetujuannya memicu kemarahan yang menarik ribuan demonstran ke sebuah perkemahan. Perkemahan itu pun segera menjadi lokasi protes dan penangkapan.
International Indigenous Youth Council (IIYC) bekerja untuk menginspirasi, mengorganisasi, dan memberdayakan para pemimpin muda demi lingkungan. Organisasi itu tumbuh dari protes Standing Rock. Kini, Iron Shell-Dominguez menjadi mentor dan koordinator proyek untuk kelompok tersebut.
“Setiap individu di komunitas kami harus memiliki akses terhadap air bersih dan udara bersih,” ujarnya. Pembangunan DAPL tetap berjalan meskipun ada protes. Namun IIYC dan organisasi pemuda lainnya terus menentang proyek-proyek lain, seperti Pipa Keystone, yang membahayakan hak-hak masyarakat adat atas air.
“Kami percaya bahwa kami tidak memiliki bumi ini. Kami sebenarnya adalah milik bumi ini,” katanya. “Kita seharusnya memberi kembali kepada Ibu Pertiwi.”