
Jakarta – Aksi demonstrasi atau demo adalah hak berpendapat yang dijamin oleh konstitusi Indonesia. Tidak hanya Indonesia, semua negara demokarasi di dunia juga menjamin hak ini.
Meski aksi demo kerap didiskreditkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mempertahankan status quo, sejarah dunia mencatat banyak aksi demo terbilang sukses. Banyak aksi demo yang pada akhirnya berdampak baik bagi kehidupan masyarakat, terutama setelah adanya perubahan kebijakan setelah demo tersebut.
Profesor Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Hukum Universitas Indonesia, menegaskan pentinganya aksi demo yang dilakukan mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya.
“Penting untuk menunjukkan ada yang salah dengan sistem ketatanegaraan kita. Ada koalisi besar partai pemerintah yang sebabkan parlemen endorse apa saja yang dimaui pemerintah. Mengubah hukum, menetapkan kebijakan anggaran, dan lain-lain,” tutur Prof Sulis, sapaan Sulistyowati, saat dihubungi pada Rabu, 3 September 2025.
Koalisi besar partai politik di parlemen yang terus mengabulkan kemauan pemerintah menurutnya malah berekses negatif. “Akibatnya DPR kehilangan fungsinya sebagai pengawas kekuasaan. Trias Politica goyah,” ujarnya lagi.
Prof Sulis mencontohkan beberapa aksi demo di Indonesia dan dunia yang terbukti berdampak baik pada kehidupan masyarakat selanjutnya. Contoh aksi demo di dunia, katanya, adalah “gerakan perempuan di US untuk dapatkan hak politik dalam pemilu bagi perempuan (boleh ikut nyoblos) tahun 1920 setelah 70 tahun diperjuangkan.”
Steve Crawshaw dan John Jackson pernah menulis sejumlah aksi yang berdampak dalam buku Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia.
Salah satu contohnya adalah aksi menggelandang televisi dengan kereta-kereta dorong bayi dan mengedap-ngedipkan lampu rumah yang dilakukan oleh rakyat Polandia. Hasilnya, rezim yang selama ini tak tergoyahkan pun akhirnya berhasil tumbang beberapa tahuh kemudian.
Aksi demo di Indonesia juga banyak yang berdampak. Misalnya adalah aksi menolak kenaikan pajak bumi bangunan (PBB) di Kabupaten Pati yang akhirnya berhasil membatalkan kebijakan kenaikan PBB tersebut.
Contoh aksi demo yang berdampak secara nasional juga nyata. “Yang jelas di kita ya 1998,” ucap Prof Sulis.
“Menurut saya, Reformasi 98 itu berhasil banget. Berhasil melahirkan Mahkamah Konstitusi. Kita enggak percaya sama hakim, ada Komisi Yudisial. Lalu ada Ombudsman. Enggak percaya sama polisi, ada Komisi Kepolisian. Ada Komisi Kejakasan, KPK, Komnas HAM. Luar biasa!” tutur Prof Sulis dalam webinar dua hari sebelumnya, Senin 1 September 2025.
“Persoalannya adalah hasil Reformasi itu cepat mati karena dimatikan para elitenya sendiri, terutama di saat-saat ya sejak Jokowi sampai hari ini, lah,” ujarnya lagi. “Kita mohon maaf mengatakannya terus terang begitu.”
Dalam webinar tersebut, Yanuar Nugroho selaku akademisi dari STF Driyarkara juga menegaskan pentingnya menjaga marwah Reformasi. Menurutnya kita perlu “menegaskan sekali lagi agar hasil-hasil penting atau keluaran-keluaran penting Reformasi 98 itu jangan mati.”

“Kita sudah mencatat independensi KPK sudah enggak [ada] lagi, ya, kan?” tanyanya retoris. “Terus ini revisi Undang-Undang TNI, nah (kekuasaan berlebih) TNI muncul lagi.”
Oleh karena itu, menurut Yanuar, “kita mesti berani teriak … karena saya merasa yang kita perjuangkan di Reformasi 98 dan berhasil saat itu, itu memang sekarang ini saya melihat kok dibunuh satu, satu, satu, gitu, ya.”